Perempuan!..Perempuan adalah sosok feminim yang memiliki
corak tersendiri, yang mampu mengubah dunia yang kaku menjadi sebuah
potret indah. Perempuan klasik sedikit berbeda perannya untuk ukuran
manusia perempuan skala modern. Pergeseran nilai-nilai ini berawal dari
tuntutan perjuangan kelas sosial akan kesetaraan gender, antara apa yang diprofesikan oleh kaum maskulin pun tidak menutup kemungkinan akan dilakukan oleh kaum bijak feminim.
Dalam rentetan bersejarah tersebut, lahirlah perempuan-perempuan
berbudaya. Lebih berperadaban dan berpendidikan. Ukuran budaya dan adab,
bagi mereka adalah kesetaraan gender, termasuk dalam aspek dunia
politik pun tak sedikit kita melihat deretan kaula hawa mewarnai jagat
percaturan elit politik. Rangkaian ini terkulminasi pada sebuah
pengharapan dan primbon utopis bahwasanya dimasa depan, perempuanlah
yang akan menjayakan dunia termasuk dalam dunia trend sebagai kunci penggerak zaman.
Outputnya perempuan-perempun telah menghiasi metropolitan, baik secara
media maupun dalam dunia yang kongkret yang sarat akan Iklan. Perempuan
berperadaban masalalu telah bergradasi secara sistem nilai dari simbol
baik dan suci menjadi pembawa petaka dunia bagi sebagian kecil manusia
yang prihatin dengan kondisi yang ada.
Media sebagai salah satu instrumen perubahan sosial telah menghiasi
kota-kota hingga pelosok telah mengantarkan mereka (perempuan) kearah
yang berbeda berdsasarkan khodratnya. Iklan-iklan sebagai senjata mereka
misalnya produk-produk dari perusahaan multi-nasional yang menawarkan
produk berperadaban yang secara tidak langsung, ikut andil dalam
pemusnahan nilai-nilai perempuan ketimuran menuju suatu klimaks
westernisasi global.
Perempuan telah dihiasi dengan paradigma materialistis, yang
mengantarkan mereka pada sebuah abstraksi pentas kehidupan duniawi yang
tak berperadaban secara hakikat bertentangan dengan budaya ketimuran.
Hal ini telah tercermin pada sebuah keadaan yang memandang dunia sebagai
ajang euforia dan ajang mencari kecintaan manusia lain melalui
suatu pencitraan, yang tidak sedikit menjual apa yang seharusnya tidak
wajib untuk diekspos secara bulat dan massal.
Dunia percaturan politik, tidak sedikit perempuan dijadikan sebagai
pelicin dan alat komersialisasi hidup dalam memaksimalkan sosialisasinya
hingga sebagian masyarakat terjerumus dari perangkat "Jebakan Batman"
mereka. Asumsi mereka, perempuan tetap seksi dimata publik dan akan
tetap menjadi primadona masa depan dalam menjajakan menu politik mereka.
Problem kemudian adalah perempuan sebagi sentrum transformasi
nilai-nilai kebaikan suci, telah mengalami degradsi fungsi sebagai
ke-ibu-an dalam konteks yang lebih luas dan beradab telah mengantarkan
mereka pada "pusaran politisasi korupsi". Hal tersebut diperparah oleh
peran media yang fungsinya sebagai medium informasi, telah ikut
memblow-up menjadi lebih besar, sehingga hal yang tidak semestinya
besar, kini menggludak sebagai masalah yang lebih serius.
Perempuan pun menjadi bulan-bulan media dan akan dikaitkan dengan
persoalan lain. Meski yang bermasalah pada intinya adalah kaula
maskulin. Bagi media, perempuan masih memiliki nilai jual tinggi yang
tidak pernah habis. Komersialisasi inilah yang tidak tersadari bagi
mereka ataukah mereka sadar tapi pura-pura tidak tahu demi
mempertahankan hidup ?

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus