![]() |
| Kerusakan moral anak bangsa akbat pergaulan modernisasi |
Oleh: Asrul Gamajaya
Entitas eksis dengan berbagai varian situasi yang saling membedakan dan tak serupa sebagai bagian dari rupa identitas. Hal mana akan menjadi penanda dan petanda bagi kehidupan yang akan saling kenal mengenal.
Tidak sedikit dari sekian perjumpaan yang telah terjadi, manusia mengalami sebuah proses yang menghasilkan ragam rupa. Salah satu aspek yang menjadi pusat perhatian dari kehadiran yang dihasilkan adalah "masalah". Beberapa kehadiran (Baca: Manusia , dll) dalam berbagai situasi dan kondisi merespons setiap masalah dengan beragam anggapan dan tanggapan. Salah satu sudut tanggapan yang ikut mewarnai adalah sudut pandang negatif. Sudut pandang ini lebih terlihat biasnya ketimbang sudut yang lain.
Kunci dari tanggapan negatif yang melahirkan sebuah anggapan umum ini ialah manusia dalam sentrum derita. Sebuah titik dimana solusi dan tindakan berpikir inovatif atas situasi yang menimpa dianggap final dan buntu.
Kemadirian berfikir, inovasi pikiran dan tindakan, free will dan evaluasi atas situasi dan persoalan hidup mengalami degradasi dan terbelakang di zaman yang mengidentifikasi diri sebagai manusia yang berdaulat atas diri dan modernisasi.
Kemunduran ini tentu berdampak sistemik atas semua lini dan sumber sumber yang di anggap telah berpartisipasi dengan konstribusi membangun peradaban. Konsekuensinya adalah manusia telah kehilangan jejak historisnya, pegangan hidup dan telah terjatuh kedalam jurang modernisasi yang sedang menciptkan kehancuran hidupnya. Salah satu masalah yang di akibatkan adalah hilangnya pengetahuan dan kebijaksanaan lokal dan peradaban masa lalu sebagai bagian tidak terpisahkan pada hari ini.
Antroposentrisme atau eksistensialisme setidaknya telah mempertajam fungsi manusia dalam pengertian berfikir dan kerja untuk dunia. Pengaruhnya jelas keberbagai penataan hidup dan pranata sosial lainnya. Ketuhanan dan banyak aspek metafisis lainnya menjadi barang langka dan dongeng sejarah yang sifatnya mistis adalah satu dari sekian kilas negatif kehadiran modernisasi.
Sesat fikir akibat tekanan kerja dan tekanan ekonomi yang semakin mempersempit ruang berfikir dan kreativitas manusia sekali lagi tlah menyeret umat manusia dalam doktrin modernisasi yang kelam. Sedikit banyaknya pemuda dan pemudi desa telah tergerus arus urbanisasi dengan pola konsumtif, individualis dan liberalnya. Akibatnya pola-pola tradisionl dan pengangan berupa pesan orang terdahulu berakhir di tong sampah modernisasi.
Lahirnya generasi emas modernisasi pada beberapa segi telah menyumbang banyak kemajuan pada beberapa konsepsi dan fasilitas pendukung kemajuan dari artifisial politik dan negara. Akan tetapi pada aspek yang lain telah disalahartikan dan di tafsirkan pada stuasi yang salah dengan fikiran serba komersial. Hal ini akan berjalan simultan pada dua dimensi kehidupan, yakni simultan pada negatif yang berorientasi merusak moral dan simultan positif dengan orientasi membangun.

Komentar
Posting Komentar